Inilah yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu jika akal bertentangan dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah, maka dalil syar’i lebih harus kita dahulukan dari akal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Jika seseorang mengetahui dengan akalnya bahwa ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yang mana jauh dekatnya cinta kepada kebenaran itu tergantung pula pada jauh dekatnya (kesungguhan) usaha yang dilakukan. Oleh karena kecintaan terhadap kebenaran merupakan penyempurnaan jiwa, dan karena jiwa merupakan suatu wujud yang bersifat abadi. Misalnya kecintaan kita kepada Allah, Nabi, Agama, al-Qur`an, dan lain-lain.
Kisah ini dikenal dengan kisah ashabul ukhdud yaitu orang-orang yang membakar orang beriman dalam parit. Orang-orang yang beriman ini tetap teguh pada keimanan mereka pada Allah, hingga raja di masa itu marah dan membakar mereka hidup-hidup. Kisah ini mengajarkan wajibnya bersabar dalam berpegang teguh pada kebenaran meskipun harus disakiti.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “ Bersemangatlah kamu dalam melakukan hal yang bermanfaat bagimu ”. Perkataan beliau ini mencakup segala sesuatu yang bermanfaat baik dalam masalah agama maupun dunia. Namun, apabila maslahat dunia dan agama itu bertabrakan, yang lebih didahulukan adalah maslahat agama.
Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Terakhir, kelima: Orang yang gila dunia urusannya akan jadi sulit. Beda kalau seseorang mengutamakan akhirat.
A A A. Adab dan akhlak terbaik yang penting diketahui oleh seorang muslimah yang sudah berhijrah. Adab dan akhlak muslimah tersebut sebenarnya sudah diberitahukan didalam Al Qur’an dan hadis. Namun, ada baiknya seorang muslimah kembali mengenal atau mempelajari adab-adab dan akhlak yang seharusnya ada dalam diri seorang muslimah ini.
Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45) Mencintai bisa jadi berkaitan dengan urusan diin (agama), bisa jadi berkaitan dengan urusan dunia. Rinciannya sebagai berikut. 1- Sangat suka jika dirinya mendapatkan kenikmatan dalam hal agama, maka wajib baginya mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya mendapatkan hal itu.
“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” – HR. Abu Daud, Trimidzi "Cinta yang terjadi karena Allah tidak akan pernah berakhir." - H.R. Muslim "Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan kesulitan bersama kemudahan". (HR Tirmidzi)
cnFqz2.